Mahasiswa UGM Raih Penghargaan dalam European Student Conference di Jerman
Jumat, 18 November 2016
Edit

Lima
mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi
dalam 27th European Student Conference. Kegiatan berlangsung di Berlin,
Jerman pada 28 Oktober-1 November 2016.
Isanawidya
Hikmah Paramita, Hindun Wildani Wahab, Andika Ilham Rahmatullah, Adi
Ariffianto, serta Guntara Khuzairi berkesempatan mengikuti konferensi biomedis
ini bersama dengan 445 peserta mahasiswa program sarjana dan pascasarjana dari
berbagai perguruan tinggi dunia. Mereka terpilih untuk mempresentasikan penelitian
yang diajukan terkait inovasi dalam menangani resistensi antibiotika.
“Setidaknya ada 500 peserta aktif maupun pasif
dari berbagai negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa yang ikut
dalam konferensi biomedis yang diselenggarakan Universitätmedizin Berlin ini,”
kata Isanawidya Hikmah Paramita, saat dihubungi Rabu (9/11).
Dalam
konferensi tersebut, Icha, panggilan akrab Isanawidya Hikmah Paramita,
mengajukan karya tulis berjudul Prevalensi Postpartum Sexual
Dysfunction and It's Association with Mode of Delivery: A Crossectional Study.
Karya tulis tersebut berhasil menghantarkannya meraih penghargaan Session
Winner dari kategori penelitian bertema ginekologi (gynaecology).
Sementara keempat temannya belum berkesempatan meraih penghargaan di konferensi
ini.
“Saat
itu saya menyampaikan presentasi mengenai prevalensi disfungsi seksual pada
wanita pasca melahirkan dan hubungannya dengan mode persalinan,” urainya.
Icha
menjelaskan penelitian yang dilakukanya bermula dari fenomena meningkatnya jumlah
tindakan operasi sesar tanpa indikasi. Hal tersebut berdampak pada efektifitas
pembiayaan kesehatan.
“Tidak
sedikit wanita yang sebenarnya bisa melahirkan secara normal, tetapi memilih
melahirkan lewat operasi sesar karena dianggap lebih nyaman dan minim efek
samping,” ujarnya.
Padahal,
operasi sesar memiliki efek samping yang lebih banyak dibandingkan persalinaan
normal. Selain itu, hasil penelitian Icha menunjukkan bahwa operasi sesar tidak
bisa mencegah wanita pasa melahirkan dari kejadian disfungsi seksual wanita.
“Penelitian
ini diharapkan dapat mengedukasi pasien terkait pilihan cara persalinan dan
menekan jumlah operasi sesar yang sebenarnya tidak dibutuhkan,” pungkasnya.
Sumber : UGM & GoodNewfroomIndonesia.id
Writer : Indah Gilang Pusparani